//
you're reading...
Nietzshe

Beberapa Pokok Pikiran Nietzsche

Friedrich Nietzshe lahir di Rohen Jerman pada tanggal 15 Oktober tahun 1844, lahir di Rocken, Prusia, Jerman Timur, Nietzcshe menjadi anak yatim pada saat usianya 5 tahun, ibu, nenek, kakak-kakaknya serta tantenya yang memelihara dan mendidiknya. Sehingga dia tumbuh menjadi manusia yang menghormati keteraturan, kerapihan dan kejujuran. Ia membenci teman-teman yang nakal, suka mencuri serta merusak milik orang lain. Di Univiersitas ia terkenal sebagai seorang peminat seni klasik dan mahasiswa filologi.

Usia 18 tahun, ia mulai kehilangan kepercayaannya pada agama dan mulai mencari Tuhan dan kepercayaan baru. Sejalan dengan itu gaya hidupnyapun berubah total, ia mulai hidup bebas, tidak beraturan, pesta pora, mabuk-mabukan dan memuaskan hasrat seksualnya.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali menjadi seorang agamis, yang mengatakan bahwa orang yang minum bir dan menghisap tembakau tidak memiliki pangan yang jernih dan pemikiran yang mendalam. Tahun 1865, ia membeli buku Schopenhauer, Die Welt als Wille und Vorstellung (1818) atau The World as Will and Idea (Dunia sebagai kehendak dan Ide). Buku ini memberikan semangat dan menghasilkan pemikiran spektakuler. Usia 23 tahun, ia bergabung dengan tentara untuk ikut perang tapi karena kesehatannya tidak mendukung ia kembali ke dunia ilmiah dan akademik.

Tahun 1869, usia 25 tahun, ia menjadi guru besar Filologi di Universitas Basel Swiss, ia sangat mengagumi musikus Richard Wagner. Disini dia bersahabat dengan Richard Wagner dan istrinya Cosima seorang komponis masyhur. Kemudian Nietzcshe membencinya karena Wagner dianggap tetap menjunjung tinggi agama. Tahun 1879, Nietzshe terpaksa pensiun karena sakit-sakitan lalu pindah ke Swiss. Sesudah itu, ia menggelandang di Swiss, Italia, dan Prancis. Pada tahun 1889 ia sakit jiwa di Torino, Italia lalu dipelihara oleh ibu dan kakaknya. Pada tahun 1900 ia meninggal setelah 10 tahun menderita sakit.

Beberapa Pemikiran Friedrich Nietzshe :

a. Kebenaran adalah hasil konstruksi atau ciptaan manusia sendiri, yang berjiwa bagi mereka untuk melestarikan diri sebagai spesis. Pengetahuan dan kebearan sebagai perangkat yang efektif untuk mencapai tujuan bukan entitas yang trasenden dari manusia. Kebenaran ilmiah tidak mungkin efektif karena hasil konstruksi manusia dan selalau upaya melayani kepentingan dan tujuan tertentu manusia.

b. Hidup adalah sebuah penderitaan. Dalam pemikirannya ini, Nietzsche menjelaskan bahwa dalam mengahadapi penderitaan itu, kita harus menggunakan seni. Selain itu, Nietzsche juga menjelaskan mengenai moralitas. Dalam penjelasanya dikatakan bahwa menjadi bermoral adalah menghormati adat istiadat komunitas. Adalah tidak bermoral untuk menghadapi adat istiadat, karena itu akan membahayakan komunitas.

c. Mengenai prinsip dalam kehidupan. Dalam pemikirannya disebutkan bahwa manusia harus membuat hukum untuk diri sendiri dan tidak melawan realitas. Jika manusia melawan realitas maka kehidupannya akan menderita karena terkadang manusia memiliki keinginan yang berlawanan dengan realitas. Apabila keinginan itu terus dipaksakan, maka manusia harus melawan realitas, sedangkan menurut Nietzsche yang terjadi tidak dapat dihindari. Sehingga untuk melawan realitas adalah sia-sia. Sehingga lebih baik manusia menerima hidup apa adanya dengan lapang dada.

d. Manusia memiliki keinginan untuk berkuasa. Pemikiran ini muncul dengan dipicu oleh kemunculan teori Darwin yang membenarkan tentang kemenangan kaum kuat atas kaum lemah dalam pergulatan demi eksistensi. Selain keinginan untuk berkuasa, Nietzsche juga menyatakan bahwa kelas-kelas sosial dalam masyarakat pada akhirnya akan menjadi sejajar, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Menurut Nietzsche ini adalah hasil dari Nihilisme. Nihilisme adalah keinginan untuk ketiadaan. Yang artinya menghapuskan perbedaan antar kelas dan jenis kelamin.

e. Moralitas ada dua, yaitu moralitas tuan dan moralitas budak. Moralitas tuan pada awalnya adalah moralitas yang baik. Yang menganut moralitas tuan adalah kaum yang kuat sedangkan yang menganut moralitas budak adalah kaum yang lemah. Pada awalnya kaum kuat berada di atas. Namun, semakin lama mereka semakin menerima pula moralitas budak. Sehingga kaum yang kuat semakin berkurang jumlahnya. Akibatnya kaum yang lemah menjadi semakin banyak dan pada akhirnya mereka yang lemah dan tertindas ini membalikkan keadaan. Sehingga moralitas tuan yang tadinya dianggap moralitas yang baik berganti menjadi moralitas yang buruk, begitu pula sebaliknya.

About novautama

Nothing spesial hanya manusia biasa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

October 2012
M T W T F S S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

DUNIA FILSAFAT

Flag Counter
Blognye IPes dan IGor

#IKANSTHESERIES Twitter : @IPesIGor (Verba Volant, Scripta Manent)

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

NOTES TO REFLECT

"where the memories are captured"

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

NUOSS

Coretan_Dunia_Filsafat (Follow twitter @filsafatdunia)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: