//
you're reading...
spinoza

Kehidupan dan Pemikiran Baruch Spinoza

Nama lengkapnya adalah Baruch Spinoza. Ia lahir pada tahun 1632. Ia adalah seorang filosof berdarah Yahudi yang keluarganya bermigrasi ke Belanda. Sebagai seorang yang berkebangsaan Yahudi, maka sudahlah barang pasti bahwa pemikirannya dipengaruhi dengan pola pikir ala filsafat Yahudi, yang memiliki pendekatan korelasi antara agama (agama yahudi) yang bersifat mistik dengan ilmu pengetahuan.[5]

Salah satu pemikiran yang paling terkenal yang ia hasilkan adalah pantheisme. Yakni sebuah paham yang menitikberatkan pada klaim bahwa Tuhan merupakan puncak dari keabsolutan yang tak terbatas. Maka atas ke-tak-terbatas-anNya itu Tuhan memberikan dampak/efek atas keberadaannya. Dampak/efek itu adalah realitas alam ini. Kalau kita ketahui bahwa menurut Hobbes alam adalah suatu realitas yang paling besar yang mengurusi segala macam yang ada, maka Spinoza memberikan argumen tandingan bahwa layaknya sebuah sungai, maka Tuhan-lah yang berperan sebagai hulunya, sedangkan apa-apa yang hadir di alam ini berperan sebagai aliran arus air yang menempati posisi manifestasi. Karena itu intinya Spinoza ingin mengatakan bahwa Tuhan-lah yang Maha segala-galanya, substansi-Nya dan realitas alam merupakan satu kesatuan.

Pendapat ini dinyatakan oleh beberapa kalangan memiliki kesamaan seperti wahdah al-wujûd yang digagas oleh ibn ‘Arabî. Akan tetapi setelah ditelisik lebih dalam, pantheisme berbeda dengan wahdah al-wujûd, karena panteisme hanya menyatakan keserupaan-nya antara Sang Pencipta dengan yang dicipta tanpa melibatkan perbedaannya antara Sang Pencipta dengan yang dicipta. Alhasil makalah ini tidak berniat untuk membandingkan keduanya, hanya saja kita perlu pahami bahwa kajian pantheisme-lah yang banyak menjelaskan tentang rumusan-rumusan substansi yang Spinoza cetuskan dan akan dibahas lebih lanjut pada halaman selanjutnya.

Seperti yang sudah dikatakan bahwa Spinoza adalah pencetus doktrin pantheisme. Doktrin ini kian mengejutkan banyak orang pada zaman itu dan kerap membuat gebrakan besar bahkan lebih. Jika menurutnya bahwa suatu entitas itu terdefinisikan dikarenakan ada batasan-batasan yang membatasinya, maka berbeda dengan Tuhan, menurut Spinoza Tuhan adalah sesuatu yang seluruhnya positif dan tidak terbatas karena Dia absolut. Tuhan adalah suatu substansi yang mana menurutnya telah menciptakan seluruh dunia ini atau menciptakan dunia ini sekaligus sebagai bagian dari dunia itu sendiri. Kalau dikatakan bahwa seorang teknisi telah membuat suatu mesin yang mempunyai kekuatan tertentu untuk menjalankan sebuah kendaraan, ini berarti bahwa teknisi tersebut telah menciptakan, yakni suatu proses aktif dengan mengadakan sesuatu yang awalnya tidak ada kemudian menjadi ada, akan tetapi menurut Spinoza terkait bahwa Tuhan merupakan bagian dari alam yang merupakan ciptaannya itu, maka Tuhan bukanlah seperti seseorang teknisi yang menciptakan suatu mesin itu, karena antara teknisi dan mesin itu secara substansi tidak memiliki kaitan, melainkan keduanya berasal dari suatu entitas yang berbeda jenisnya.

Tuhan dan ciptaannya adalah satu kesatuan yang saling mempengaruhi, kalau kita contohkan layaknya sebuah bensin yang mengalami proses pembakaran sehingga menimbulkan asap. Maka bensin tersebut telah menciptakan satu entitas tersendiri yakni asap, yang mana asap tersebut adalah bagian dari bensin itu. Contoh lain yang lebih mudah lagi adalah saling terkaitnya antara substansi ayah kepada anaknya, ayah merupakan penyebab sekaligus bagian dari anak tersebut, sedangkan anak adalah hasil atas adanya si ayah itu. Oleh karena itu menurut Spinoza tuhan merupakan sebab, alasan dan yang mendasari, sekaligus sebagai fakta penjelas fundamental kepada hal lain.[6] Berikut kita akan membahas eksistensi yang menurut Spinoza merupakan turunan Tuhan, yakni manusia.

· Manusia

Kita tahu bahwa di dalam diri manusia bukanlah hanya aspek fisik saja yang ada, akan tetapi di dalam tubuh manusia juga meliputi aspek batin, yang sering dikenal dengan sebutan mind/pikiran dan soul/jiwa.

Menurut Spinoza, jiwa adalah penggagas dari tubuh. Dalam artian menurut Spinoza, jika kita ingin memahami jiwa, maka kita harus memahami tubuh. Manusia adalah tubuh, yang berkaitan dan dibatasi oleh badan-badan lain, dan semua badan-badan ini adalah mode dari perpanjangan atribut ilahi. Setiap tubuh, bahkan setiap bagian dari semua tubuh diwakilkan oleh “an idea in the mind of God”/ide dalam pikiran Tuhan, singkatnya kita pahami bahwa setiap sesuatu yang merupakan perpanjangan dari atribut Tuhan adalah sama atau sesuai dengan pikiran Tuhan. Seperti contoh bahwa apa yang dilakukan oleh tubuh manusia merupakan bagian dari keinginan pikiran manusia itu sendiri. Maka dari itu, menurut pandangan Spinoza, manusia adalah bagian dari akal Tuhan.

Berbicara mengenai tubuh dan jiwa, Spinoza mengemukakan bahwa keduanya adalah suatu substansi yang memiliki kesamaan, hanya saja keduanya dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, yakni jiwa sebagai substansi berfikir dan tubuh sebagai substansi perpanjangan yang sebenarnya keduanya memliki relasi sebagai satu kesatuan, yakni apa yang menjadi kemauan dari tubuh, sepenuhnya dipersepsikan oleh pikiran di dalam jiwa.[7] Seperti contoh tentang timbulnya rasa lapar yang awalnya dirasakan oleh tubuh kemudian dipersepsikan oleh pikiran kita, dengan adanya rasa lapar yang mendera perut yang merupakan bagian dari tubuh, maka secara tidak langsung pikiran kita mempersepsi dan dipengaruhi oleh rasa lapar tersebut. Maka kesimpulan atas gagasan Spinoza ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa jiwa adalah merupakan ide dari tubuh.

Masih menanggapi manusia, merujuk pada argument Descartes bahwa “I think therefore I am”, maka kita akan mendapati ada res cogitans yang terletak pada kata I think dan res extensa pada kata I am. Menurut Descartes, adanya res cogitans dan res extensa tidak lain berasal dari Tuhan, atau kita katakan bahwa Tuhan-lah yang menjadi fasilitator keduanya. Melihat itu, Spinoza langsung membantahnya dan mengatakan bahwa res extensa hanyalah perpanjangan dari res cogitans yang memiliki kebergantungan eksistensial. Sedangkan res cogitans bergantung kepada Tuhan. Maka kesimpulannya Spinoza mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada termasuk res cogitans dan res extensa adalah manifestasi dari Tuhan.

About novautama

Nothing spesial hanya manusia biasa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

October 2012
M T W T F S S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

DUNIA FILSAFAT

Flag Counter
Blognye IPes dan IGor

#IKANSTHESERIES Twitter : @IPesIGor (Verba Volant, Scripta Manent)

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

NOTES TO REFLECT

"where the memories are captured"

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

NUOSS

Coretan_Dunia_Filsafat (Follow twitter @filsafatdunia)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: