//
you're reading...
Leibniz

Kehidupan dan Pemikiran Gottfried Wilhem Leibniz

Gottfried Wilhem Leibniz atau yang namanya juga dieja dengan Leibnitz adalah seorang filosof berkebangsaan Jerman yang lahir pada tahun 1646. Layaknya Hobbes, Leibniz juga bepergian keliling Eropa dengan mengunjungi Austria dan Italia untuk membuat penelitian buku yang diperintahkan oleh seorang Kurfurst untuk membahas tentang sejarah keluarganya, yakni keluarga Braunschweig. Berbicara tentang Leibniz yang merupakan salah satu filosof barat, maka bagaimana ia bisa menjadi filosof? Faktor yang paling fundamental adalah dari ayahnya Friedrich Leibniz yang merupakan ahli etika. Konon ayahnya selalu menyokongnya terhadap diskursus yuridis dan filsafat. Sehingga ia terpengaruh dan pada masa remajanya ia masuk ke universitas Leipzig dan belajar filsafat dengan Adam Schertzer yang merupakan seorang teolog dan teoritikus filsafat.[8]

Leibniz banyak membahas keberadaan alam dengan mengkhususkan bahasannya tentang relasi antara tuhan dengan ciptaannya terutama manusia. Tentang pengetahuan yang didapat manusia, Leibniz mengemukakan argumennya bahwa kesemuanya, kecuali pemahaman berawal dari persepsi indera, menurutnya pemahaman datangnya dari rasionalitas, yang mana rasionalitas tersebut didapatkan dari proses berfikir serta anugerah Tuhan. Pendapat tersebut agak memiliki kemiripan dengan Rene Descates dalam cogito ergo sum-nya. Persamaannya yakni pada anugerah Tuhan yang memberikan kita kesempatan untuk berfikir, atau dapat dikatakan Tuhan sebagai Fasilitator kita untuk berfikir/memotensikan rasionalitas.

Sama seperti pendahulunya, Descartes dan Spinoza, maka Leibniz juga memfokuskan teori-teorinya kepada aspek ontologis, yakni permasalahan substansi. Kalau seorang Descartes menyebutkan bahwa di alam ini substansi mewakili tiga hal, yakni tuhan, jiwa dan materi. Spinoza mengemukakan bahwa berkembangnya suatu eksistensi serta substansi jiwa adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan. Maka Leibniz terkesan mempunyai pendapat lebih sempurna ketimbang Spinoza, ia menyatakan bahwa suatu substansi yang membentuk daya hidup alam ini tidak berasal dari pondasi satu substansi saja, akan tetapi pondasinya berasal dari eksistensi yang plural yang menjadikannya hidup. Seperti sebuah mobil yang terangkai dari macam-macam benda yakni busi, dinamo, chasis, ban, aki dan lain-lain, yang sebagaimana benda-benda penyusun mobil tersebut juga tersusun dari macam-macam benda lain, maka berkat adanya rangkaian benda-benda tersebut mobil dapat hidup dan beroperasi, jika masing-masing benda yang merangkai mobil itu dilepas satu-persatu, maka mobil tersebut dipastikan nir-fungsi.

Seperti itulah pandangan Leibniz tentang substansi yang bergantung pada partikel-partikel yang membentuknya, partikel-partikel tersebut diistilahkan oleh Leibniz dengan nama monad yang kesemuanya memiliki daya, baik itu daya untuk hidup atau daya untuk mati. Monad yang memiliki daya hidup akan menjadi makhluk hidup. Sedangkan monad yang tidak memiliki daya hidup/hanya memiliki daya untuk mati akan menjadi benda mati.

Keberadaan semua monad tersebut mempunyai tugas untuk bekerja sama membentuk suatu struktur dunia yang harmonis. Lantas apa sebenarnya peran Tuhan dalam monad-monad ini? Jawab Leibniz bahwa sesungguhnya monad-monad ini mencerminkan alam semesta, akan tetapi pencerminan tersebut bukan berasal dari alam itu sendiri yang memberikan, akan tetapi Tuhan-lah yang memberikannya sebuah sifat spontan yang menyebabkan refleksisme.[9]

Berbicara mengenai kehendak tuhan, Leibniz mengkultuskan bahwa kehendak Tuhan merupakan konsekuensi logis dari segala sesuatu yang terjadi di alam. Pendapat ini serupa dengan konsep teologi Syiah yakni amr bainal amrain. Jika kita bunuh diri, maka konsekuensinya adalah mati, maka peran Tuhan dalam kehendaknya adalah mematikan pada manusia yang telah bunuh diri. Kesimpulannya Tuhan mendapatkan kehendaknya untuk melakukan sesuatu tergantung kepada yang alam lakukan pada awalnya.

Kembali kepada permasalahan monad, monad-monad tersebut mempunyai pangkat masing-masing, atau dapat kita ibaratkan terdapat sistem tingkatan-tingkatan atau kasta-kasta, Ada yang lebih dominan atau yang paling tinggi. Mengapa dikatakan ada yang lebih dominan? Mengapa tidak dikatakan semuanya sama? Secara substansial kesemuanya adalah partikel yang berbeda dan tidak dimungkinkan ada kemiripan antara monad satu dengan monad lainnya yang memiliki tugas masing-masing satu sama lain, dan dikatakan ada yang lebih dominan dikarenakan yang dominan tersebut-lah yang seringkali banyak mengendalikannya baik untuk mengalami pergerakan ataupun perubahan. Dalam kabin mobil misalnya, maka setir-lah yang kita katakan sebagai monad dominan yang mengendalikan alur jalan mobil, dia-lah yang menentukan kemana mobil akan berjalan. Demikian halnya dengan manusia, ada monad yang lebih unggul dari monad lainnya yang mengendalikan kesemuanya, maka menurut Leibniz jiwa manusia-lah yang menempati posisi urgent tersebut.

Jika Leibniz mengatakan bahwa adanya monad-monad ini merupakan satu bukti keharmonisan tersendiri bagi alam, maka bagaimana dengan fakta yang mengatakan bahwa sebenarnya dunia ini tidak hanya harmonis akan tetapi dunia juga mengalami kerusakan yang disebabkan oleh hal tertentu? Ini mengindikasikan bahwa sebenarnya monad tidak hanya membentuk keharmonisan alam akan tetapi juga merusaknya. Menanggapi pertanyaan ini, secara gamblang Leibniz memberikan argumen bahwa sebenarnya kerusakan yang ada di alam tak dipungkiri juga berasal dari monad, ini artinya bahwa kerusakan yang ada di alam ini juga merupakan bagian dari struktur yang tak terpisahkan dari dunia dan merupakan bukti dari keadilan Tuhan.

Kalau pembahasan kita kembalikan kepada pangkat-pangkat yang dimiliki setiap monad, lantas apakah benar bahwa ada satu monad yang paling utama dari segala monad-monad yang ada di alam semesta ini? Siapakah monad yang paling utama/tertinggi itu? Leibniz menjawabnya bahwa monad utama yang ada di alam ini adalah yang mempunyai kekuatan untuk mengatur dan menjadikan segala monad-monad yang ada di alam dapat memiliki daya. Monad itu adalah Tuhan.

About novautama

Nothing spesial hanya manusia biasa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

October 2012
M T W T F S S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

DUNIA FILSAFAT

Flag Counter
Blognye IPes dan IGor

#IKANSTHESERIES Twitter : @IPesIGor (Verba Volant, Scripta Manent)

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

NOTES TO REFLECT

"where the memories are captured"

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

NUOSS

Coretan_Dunia_Filsafat (Follow twitter @filsafatdunia)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: